Posts Tagged: #Wisata #Bedengan #Dau #BumiPerkemahan

Menikmati Fajar Bersama Kopi Hangat di Hutan Pinus Bedengan

Suasana pagi ketika fajar menyingsing di bumi perkemahan Bedengan, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: Hilmy/malangtimes)

Suasana pagi ketika fajar menyingsing di bumi perkemahan Bedengan, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: Hilmy/malangtimes)

Gemericik suara air sungai dikala sang fajar menyingsing membuat suasana pagi di hutan pinus terasa hening. Suasana menjadi ‘wah’ dengan kehadiran secangkir kopi pahit hangat yang membuat segarnya udara pagi khas pegunungan semakin sempurna.

Merdunya kicauan burung menemani beragam aktivitas pengunjung di wisata alam Bedengan yang banyak dimanfaatkan sebagai bumi perkemahan ini. Ada yang menikmati hangatnya sisa-sisa api unggun untuk sekedar menghangatkan suasana.

Diantara mereka ada yang menyempatkan diri berolahraga pagi sambil menikmati keindahan pohon pinus berjejeran disela kabut pagi yang masih sempat menyembul diantara rapatnya pohon-pohon pinus.

Tak sedikit yang sekedar mendekat air sungai mendatangi percikan air yang aliran airnya bergelombang memanggil-manggil untuk ‘diselami’.

Bedengan, begitu orang menyebut ‘sepetak’ keindahan alam yang letaknya di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berada tak jauh dari Kota Malang, hutan pinus ini relatif sangat alami. Diantara perkebunan jeruk dan pepohonan hijau di sekelilingnya berdiri sepetak lahan digunakan sebagai bumi perkemahan.

Salah seorang pengunjung Fasa Malisi, yang berkemah bersama puluhan rekannya menilai bumi perkemahan Bedengan memiliki keindahan yang masih alami, dengan udara sangat sejuk.

“Sebenarnya sudah bagus, cuma akses jalan yang kurang, perlu diperbaiki, karena terkadang bila hujan jalanan menjadi licin,” ujar pria yang mengaku sudah berkemah beberapa kali di tempat ini.

Sementara itu di Bedengan sendiri total secara keseluruhan ada 13 spot untuk berkemah di lokasi ini. Ke 13 spot kemah itu terbagi dari spot A hingga K.

Menurut Supriadi, salah seorang pengelola bumi perkemahan ini, awalnya bumi perkemahan Bedengan dibuka 11 tahun lalu, dikelola oleh pengelola yang dipimpin Wariadi, lembaga pengelola Bedengan bersama lembaga desa.

Hampir sepuluh tahun berjalan, pengelola mengalami pergantian. “Tahun 2014 atau satu setengah tahun lalu ada pergantian kepengurusan yang diketuai pak Solikin, wakilnya saya sendiri dan berjalan hingga saat ini,” ujar Supriadi

Ia mengungkapkan bahwa lahan tersebut milik Perhutani, namun untuk pengelolaan tetap dikelola oleh lembaga Desa setempat. Dengan total luas 3 hektar, yang digunakan untuk spot perkemahan tidak seluruhnya, hanya 2 hektar.

Selain mahoni, berbagai jenis tanaman dan pepohonan tumbuh di bumi perkemahan ini, seperti pohon saman, beringin, ipek, dan lain sebagainya. Sekitar 1,5 km dari bumi perkemahan Bedengan terdapat sumber air yang dinamakan Coban Tirtorekso.

“Penamaannya baru kita namakan, airnya juga mengaliri beberapa desa sekitar, seperti Petungsewu, dan sekitar,” terangnya.

Sementara nama Bedengan sendiri diambil dari nama pembibitan mahoni di wilayah tersebut yaitu pembibitan Bedengan, yang akhirnya menjadikan nama Bedengan tersebut bertahan hingga saat ini.

Dengan biaya masuk Rp 5 ribu dengan parkir Rp 5 ribu pengunjung bisa menikmati udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata dengan fasilitas yang telah dibanagun sederhana seperti mushola dan gazebo.

Bagi yang berkemah juga disediakan tempat yang bisa dimanfaatkan untuk dapur dengan biaya untuk bermalam cukup murah dengan 10 ribu rupiah per orang dengan biaya parkir yang sama 3 ribu rupiah. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/8849/2/20160118/052414/menikmati-fajar-bersama-kopi-hangat-di-hutan-pinus-bedengan/