Posts Tagged: #wartegbahari #maritim #harinusantara

Mengenal Kosakata Bahari, ‘Lautan’ yang berakhir di Warteg

Ilustrasi warteg bahari, warung makan kesayangan anak kos. (sumber: googleimage)

Ilustrasi warteg bahari, warung makan kesayangan anak kos. (sumber: googleimage)

“Kalian tau beda maritim dengan Bahari?”

Pertanyaan ini mengemuka ketika saya sedang mengikuti perkuliahan sejarah maritim yang diampu langsung guru besar ilmu sejarah UI, Prof Dr. Susanto Zuhdi.

Belum sempat kami sekelas menjawab, beliau menyeletuk kembali. “Jangan cuma warteg saja yang kalian ketahui tentang Bahari.”

Sebagai orang yang banyak bergelut di darat, nama bahari memang sangat familiar, terutama bagi anak kosan yang sehari-hari hidupnya bergantung pada warung makan khas Tegal ini.

Tak susah mencari warteg dengan tagline bahari di wilayah Jadetabek. Harga relatif terjangkau, dengan cita rasa ala ‘prasmanan’ yang konon cita rasanya sama enaknya (ini versi saya lo ya) di semua warteg dengan tagline bahari, membuatnya jadi idaman anak rantau.

Dan satu lagi, porsi kuli! poin penting bagi warung manapun yang akan menjadi kesayangan anak kos, terus terang di akhir bulan kadang spesies mahasiswa kere harus merapel makan siangnya dengan makan malam sekaligus. Nah, warung macam begini pasti jadi rujukan.

Konon, warteg dengan embel-embel bahari ini hampir merajai sudut-sudut keramaian ibukota. Adagium ‘ada gula ada semut’ nampaknya pas menggambarkan ekspansi warung makan dengan menu khas orek tempe ini. Keberadaan mereka juga yang cukup meracuni otak saya, “Kalau ingat kata Bahari, ya ingatnya warteg.”

Nah kembali ke topik. Ngomong-ngomong, penasaran dengan kosakata Bahari, reflek saja membuka lembaran lembaran lama, percayalah tak semua yang lalu adalah duka, eh. Ya, kata bahari pernah disebut Presiden RI pertama, Soekarno dalam pidato pembukaan Munas Maritim pertama di Jakarta, 23 September 1963.

“….yang kita maksud dengan perkataan zaman bahari ialah zaman purbakala, zaman dahulu, zaman kuno, zaman yang lampau itu kita namakan zaman bahari. Apa sebab? Sebabnya ialah kita di zaman lampau itu adalah suatu bangsa pelaut. Bahar, elbaher artinya laut, zaman kita mengarungi laut, zaman tatkala Kita adalah bangsa pelaut,” ujar bung Karno dengan gaya bicara berapi-apinya.

Di zaman yang berbeda, puluhan tahun kemudian, Prof Adrian B. Lapian menguraikan makna kata bahari dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Sastra UI, dengan judul ‘Sejarah Nusantara Sejarah Bahari (1992)’. Empat kata yang dimaksud dalam judul uraian ini akan bertemu kata nusantara dengan bahari yang bermakna laut.

Dosen saya sendiri, Prof Dr. Susanto Zuhdi dalam beberapa tulisan yang kemudian dihimpun dalam satu buku yang diterbitkan tidak membedakan budaya bahari dengan budaya maritim. Ini dipertegas dalam orasi ilmiahnya dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-75 FIB UI, 8 Desember 2015 dengan judul ‘Budaya Bahari sebagai Wajah Utama Masa Depan Negara Maritim Indonesia’.

Penjelasan di atas bagi yang awam, termasuk saya sendiri, lumayan abot (teramat berat) untuk dicerna. Untuk menghindari perdebatan panjang lebar, ambillah makna laut dalam pengertian bahari.

Kembali lagi, ketika berbicara laut. Ini kenapa? Saya tak habis pikir ada saja sebuah warung makan dengan nama bahari, warteg pula. Apa mungkin karena letak Tegal di pesisir utara Pulau Jawa? Atau CEO waralaba warteg bahari ini punya kenangan dengan laut? Entahlah, yang jelas masakan warteg dengan nama bahari enak, plus porsi kuli.

Setelah berfikir mendalam, satu malam, dua malam, hingga malam minggu tiba. Saya mencoba mendalami warteg ini, ndilalah saya paham setelah mencoba menu-menu warteg ini. Ada tuna, tongkol, tumis kerang, udang goreng. Tiba-tiba saya tertegun, apa ya ini yang disebut Bahari ??? Ah lupakan, menu itu bagi anak kos tak terlalu penting, terpenting porsi banyak, rasa enak apa enggak itu belakangan, kecuali rasaku padamu yang tak pernah kau hiraukan. (*)

(Tulisan ini dibuat saat bulan Desember, saat rintik hujan tak henti-hentinya membasahi dasar bumi, eeh, Selamat Hari Nusantara)