Posts Tagged: #Salim #KakekRenta #Gigih #Kerja #PedagangJeruk #Malang

Kisah Salim, Pria Renta dan Buta yang Tetap Gigih Bekerja

Salim (kanan-jaket biru), Kakek 78 tahun yang tetap bekerja meski menderita katarak (Foto: Hilmy/malangtimes)

Salim (kanan-jaket biru), Kakek 78 tahun yang tetap bekerja meski menderita katarak (Foto: Hilmy/malangtimes)

Keranjang berisi buah jeruk masih terlihat penuh. Seorang pria renta tampak menjaganya. Bersandar di emperan toko di sekitar Pasar Besar Malang. Lalu lalang orang lewat begitu saja. Sesekali datang pembeli kepadanya.

Mengandalkan naluri dan ingatannya, lelaki renta bernama Salim, 78 tahun ini membungkus jeruk yang dipesan pembeli. Meski sudah tua dan kedua matanya tidak bida melihat, Salim tetap bekerja dan tidak menyerah dengan kondisi fisiknya yang tidak mendukung sepenuhnya.

Hampir setiap hari, Salim berangkat dari rumahnya sebelum mentari belum begitu tinggi. Dua ranjang anyaman bambu dibawanya untuk berdagang jeruk di sekitar pasar besar besar, Kota Malang. Tepatnya di pertokoan sekitar altara.

Ketika ditanya, terceletuk Salim namanya, dengan pelan nama kakek ini. Sontak ketika mencoba menemui pria ini dengan sigap ia langsung bertanya. “Mau beli jeruknya nak?,” katanya.

Proses jual beli terjadi, singkat cerita kakek ini terlihat bingung mencari tas plastik kresek untuk mewadahi dagangan yang dijualnya, bahkan ketika merogoh sakunya untuk mencari uang ‘kembalian’.

Tak butuh waktu lama, rekan sesama pedagang di sebelahnya pun membantu. “Duwite seket, susuke sepuluh ewu (Uangnya 50 ribu, kembaliannya sepuluh ribu),” celetuk kawannya dengan bahasa Jawa dan sesekali diselingi bahasa Madura kepada Salim.

Salim sudah tiga tahun matanya menderita katarak, sehingga untuk melihat sesuatu tidak cukup jelas. Ketika ditanya mengapa tidak operasi mata dan istirahat saja, mengingat usianya sudah tua ia menjawab takut untuk operasi.

“Saya takut operasi mata, hanya beli obat saja, ya tetap harus kerja karena ada istri di rumah, anak saya di Malaysia tidak pulang, kalau tidak kerja menyambung hidup dari mana,” kata Salim lirih.

Sehari-hari Salim berdagang di depan komplek pertokoan wilayah pasar besar tersebut mulai pagi pukul 07.00 WIB hingga sore pukul 14.30 WIB. Sudah tiga tahun ia berdagang jeruk, sebelumnya ia berdagang jeruk dengan berkeliling menggunakan ‘pikulan’ keliling ke beberapa tempat, namun karena kondisi kesehatannya menurun dan matanya terkena katarak, ia berhenti berdagang keliling dan hanya berdagang di depan pertokoan tersebut.

Ditanya bagaimana ia dapat berdagang dengan kondisi tersebut, ia mengaku setiap pagi ia berangkat dari rumahnya di daerah Tlogowaru dengan berjalan kaki dan naik angkutan kota menuju pasar besar, sesampainya di lokasi, dua keranjang dagangan diambil di depan toko yang dititipi, dan jeruk yang dijual diantar oleh penyuplai langsung ke tempat berjalan milik Salim.

“Kalau jeruknya sudah diberi plastik untuk 2 Kg, jadi tinggal ambil kalau yang mau beli,” imbuhnya.

Terlihat berbeda dengan pedagang jeruk pada umumnya yang biasa menjajakan dagangannya dengan pembeli bisa memilih sesuka hati jeruk yang akan dibeli, namun di tempat dagangan Salim, jeruk tersebut sudah dikemas dengan plastik dengan isi masing-masing 2 Kg, untuk memudahkannya ketika berjualan.

“Kalau tidak begitu ndak kelihatan pak Salim,” celetuk pedagang mangga di sebelah Salim.

Harga jeruk yang dijualnya, Rp 20 ribu rupiah untuk jeruk per plastik yang berukuran 2 Kg. Ia tetap berjualan meskipun kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja, mengingat ia satu-satunya tulang panggung keluarga, karena istrinya sudah tak lagi bekerja dan seorang anaknya berada jauh diperantauan, tidak pernah kembali. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/4014/3/20150911/155600/kisah-salim-pria-renta-dan-buta-yang-tetap-gigih-bekerja/