Posts in Category: Wisata

Pura di Pulau Ismoyo Jadi Daya Tarik Wisata Pantai Balekambang

Wisatawan yang berkunjung di Pantai Balekambang antri menuju Pura Amerta Jati melalalui jembatan yang menghubungkan pesisir Pantai Balekambang dan Pulau Ismoyo. (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)

Wisatawan yang berkunjung di Pantai Balekambang antri menuju Pura Amerta Jati melalalui jembatan yang menghubungkan pesisir Pantai Balekambang dan Pulau Ismoyo. (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)

Pantai Balekambang merupakan salah satu Pantai di selatan Kabupaten Malang yang memiliki daya tarik tersendiri dengan adanya Pura yang terdapat di Pulau Ismoyo. Letaknya persis di seberang pantai Balekambang, dapat ditempuh dengan menyebrangi jembatan yang terhubung langsung dengan bibir pantai.

Pura Amerta Jati yang terletak di Pulau Ismoyo seberang Pantai Balekambang ini diresmikan pada tahun 1985 oleh Edi Slamet yang kala itu menjabat sebagai bupati daerah tingkat II, Malang.

Apabila diamati bentuk arsitekturnya mirip dengan pura-pura yang ada di Tanah Lot Bali. Di Pura tempat sembahyang umat Hindhu inilah sering diselenggarakan upacara keagamaan salah satunya adalah ritual Jalani Dhipuja. Ritual ini dilaksanakan tiga hari sebelum hari raya Nyepi.

Puncak dari ritual ini adalah pada saat Jolen Larung atau melarung persembahan ke laut sebagai wujud rasa syukur atas semua karunia yang diberikan selama ini dan juga bertujuan untuk mengusir kemalangan di masa yang akan datang.

Keberadaan Pura ini menjadi daya tarik tersendiri di Pantai Balekambang, hampir setiap pengunjung yang datang ke Pantai yang letaknya di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini merasa rugi rasanya apabila tidak menyenpatkan berkunjung ke Pulau Ismoyo.

Seperti pengakuan Subandrio, wisatawan asal Tuban yang berkunjung bersama istri dan kedua anaknya ini mengaku sebelumnya penasaran dengan keberadaan Pura Amerta tersebut, karena sebelumnya ia hanya mendapat cerita dari rekan maupun dari media.

“Saya justu penasaran dengan pura yang ada di pantai ini, karena setahu saya pantai yang ada pulaunya ya di Bali,” ungkapnya, Minggu (3/1/2015)

Sebenarnya ia sudah lama mengetahui keberadaan Pura Amerta Jati di Pantai Balekambang, namun baru kali ini bisa menyempatkan berkunjung. “Niatnya memang ke Malang untuk berlibur, sekalian ke pantai Balekambang,” terangnya.

Dia menginginkan kedepan pengelolaan pantai berpasir putih ini dapat ditata lebih serius supaya mampu menarik lebih banyak wisatawan.

“Pantainya sudah bagus, dan ada Puranya yang mana itu menjadi daya tarik tersendiri, namun masih banyak sampah dan jalur masuknya untuk parkir ┬ámacet, semoga kedepan lebih ditata,” harapnya. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/8273/20160103/193714/pura-di-pulau-ismoyo-jadi-daya-tarik-wisata-pantai-balekambang/

Berkat Mbah Sirajudin ‘Babat Alas’, Masyarakat ‘Hujan’ Berkah Sumber Sira

Nampak wisatawan menikmati bermain air di wisata alam Sumber Sira (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)

Nampak wisatawan menikmati bermain air di wisata alam Sumber Sira (Foto: Hilmy / MALANGTIMES)

Wisata alam Sumber Sira yang saat ini tengah menjadi primadona wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Malang nyatanya tidak muncul tiba-tiba, daerah Putukrejo yang menjadi lokasi wisata alam tersebut berasal dari ‘Babat Alas’ yang dilakukan tokoh setempat bernama Sirajudin atau Mbah Sira.

“Untuk yang babat alas adalah tokoh pertama yaitu mbah Sirajudin, yang kemudian diabadikan menjadi nama Sumber Sira,” ujar Ahmad Toha, Kepala Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Selasa (29/12/2015).

Ia mengungkapkan sebelum dijadikan tempat wisata seperti saat ini, sumber air tersebut sudah ada. “Dulu digunakan pemandian hanya untuk warga lokal dan saluran air bersih saja,” tambahnya.

Kemudian berkembang menjadi sumber air yang menyalurkan ari di beberapa desa, dua Kecamatan. Di Kecamatan Gondanglegi yang teraliri antara lain Desa Putukrejo, Sumberjaya, Ketawang, dan Desa Ganjaran. Sedangkan di Kecamatan Bululawang mengaliri Desa Gading dan Krebet.

Hingga berkembang saat ini menjadi lokasi wisata alam Sumber Sira yang dikelola oleh Karangtaruna Desa Putukrejo. Kemudian terkait keberadaan ganggang yang ada di wisata pemandian air tawar tersebut menurutnya sudah ada sejak dulu, bukan sengaja ditanami.

“Ganggangnya sudah dari dulu ada, sekarang sudah banyak dibuat mandi, dibiarkan satu minggu saja tumbuh panjang, dulu sempat kesulitan karena membersihkan namun sekarang dirawat dipotong apabila sudah panjang,” katanya.

Kunjungan di Sumber Sira semakin naik dari hari ke hari semenjak ada perawatan dan dibuka sebagai lokasi wisata. “Pengunjung nya sangat besar, di hari biasa sekira dua ratus orang, itu bukan hari libur ya, kalau sabtu minggu bisa seribu dua ribuan,” jelasnya.

Hal itu selaras dengan berkah yang diperoleh warga sekitar dengan dengan adanya adanya wisata alam tersebut, yang memunculkan lapangan kerja baru seperti warung makan, parkir, jasa penyewaan ban (pelampung), dan lain sebagainya.

Bahkan, menurut mitos yang berkembang apabila mandi di Sumber Sira, konon katanya dapat membuat lebih awet muda. “Airnya dari sumber yang sehat dan jernih bahkan sampai ada mitos kalau sering mandi disini bisa awet muda,” katanya.

Dengan membayar tiket masuk seharga seribu rupiah dan parkir dua ribu rupiah, pengunjung dapat dapat berelaksasi ria di Sumber seluas 1.500 hektare tersebut sekaligus berfoto ria dibawah air dengan latar belakang tanaman ganggang dan ikan-ikan bersliweran yang nampak bagaikan snorkeling di laut lepas. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/8064/20151229/130512/berkat-mbah-sirajudin-babat-alas-masyarakat-hujan-berkah-sumber-sira/

Menikmati Fajar Bersama Kopi Hangat di Hutan Pinus Bedengan

Suasana pagi ketika fajar menyingsing di bumi perkemahan Bedengan, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: Hilmy/malangtimes)

Suasana pagi ketika fajar menyingsing di bumi perkemahan Bedengan, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: Hilmy/malangtimes)

Gemericik suara air sungai dikala sang fajar menyingsing membuat suasana pagi di hutan pinus terasa hening. Suasana menjadi ‘wah’ dengan kehadiran secangkir kopi pahit hangat yang membuat segarnya udara pagi khas pegunungan semakin sempurna.

Merdunya kicauan burung menemani beragam aktivitas pengunjung di wisata alam Bedengan yang banyak dimanfaatkan sebagai bumi perkemahan ini. Ada yang menikmati hangatnya sisa-sisa api unggun untuk sekedar menghangatkan suasana.

Diantara mereka ada yang menyempatkan diri berolahraga pagi sambil menikmati keindahan pohon pinus berjejeran disela kabut pagi yang masih sempat menyembul diantara rapatnya pohon-pohon pinus.

Tak sedikit yang sekedar mendekat air sungai mendatangi percikan air yang aliran airnya bergelombang memanggil-manggil untuk ‘diselami’.

Bedengan, begitu orang menyebut ‘sepetak’ keindahan alam yang letaknya di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berada tak jauh dari Kota Malang, hutan pinus ini relatif sangat alami. Diantara perkebunan jeruk dan pepohonan hijau di sekelilingnya berdiri sepetak lahan digunakan sebagai bumi perkemahan.

Salah seorang pengunjung Fasa Malisi, yang berkemah bersama puluhan rekannya menilai bumi perkemahan Bedengan memiliki keindahan yang masih alami, dengan udara sangat sejuk.

“Sebenarnya sudah bagus, cuma akses jalan yang kurang, perlu diperbaiki, karena terkadang bila hujan jalanan menjadi licin,” ujar pria yang mengaku sudah berkemah beberapa kali di tempat ini.

Sementara itu di Bedengan sendiri total secara keseluruhan ada 13 spot untuk berkemah di lokasi ini. Ke 13 spot kemah itu terbagi dari spot A hingga K.

Menurut Supriadi, salah seorang pengelola bumi perkemahan ini, awalnya bumi perkemahan Bedengan dibuka 11 tahun lalu, dikelola oleh pengelola yang dipimpin Wariadi, lembaga pengelola Bedengan bersama lembaga desa.

Hampir sepuluh tahun berjalan, pengelola mengalami pergantian. “Tahun 2014 atau satu setengah tahun lalu ada pergantian kepengurusan yang diketuai pak Solikin, wakilnya saya sendiri dan berjalan hingga saat ini,” ujar Supriadi

Ia mengungkapkan bahwa lahan tersebut milik Perhutani, namun untuk pengelolaan tetap dikelola oleh lembaga Desa setempat. Dengan total luas 3 hektar, yang digunakan untuk spot perkemahan tidak seluruhnya, hanya 2 hektar.

Selain mahoni, berbagai jenis tanaman dan pepohonan tumbuh di bumi perkemahan ini, seperti pohon saman, beringin, ipek, dan lain sebagainya. Sekitar 1,5 km dari bumi perkemahan Bedengan terdapat sumber air yang dinamakan Coban Tirtorekso.

“Penamaannya baru kita namakan, airnya juga mengaliri beberapa desa sekitar, seperti Petungsewu, dan sekitar,” terangnya.

Sementara nama Bedengan sendiri diambil dari nama pembibitan mahoni di wilayah tersebut yaitu pembibitan Bedengan, yang akhirnya menjadikan nama Bedengan tersebut bertahan hingga saat ini.

Dengan biaya masuk Rp 5 ribu dengan parkir Rp 5 ribu pengunjung bisa menikmati udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata dengan fasilitas yang telah dibanagun sederhana seperti mushola dan gazebo.

Bagi yang berkemah juga disediakan tempat yang bisa dimanfaatkan untuk dapur dengan biaya untuk bermalam cukup murah dengan 10 ribu rupiah per orang dengan biaya parkir yang sama 3 ribu rupiah. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/8849/2/20160118/052414/menikmati-fajar-bersama-kopi-hangat-di-hutan-pinus-bedengan/

Demi Kesehatan Nalar, Mari ‘Bertarung’ Berolahkata

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

Saya tidak tahu harus memulai tulisan perdana di laman ini (bunghilmy.com) darimana, yang jelas laman ini saya buat semata karena berbagai sebab yang muncul di otak saya, pertama sejauh ini gagasan-gagasan baik secara lisan maupun tulisan dalam kerangka besar sebuah gerakan literasi yang berasal dari berbagai aktivitas selama di dalam maupun di luar kampus mandek ditengah jalan setelah tak lagi menyandang status mahasiswa.

Kedua, terus terang saja, ketakutan saya atas segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi menjadi sia-sia apabila tak terdokumentasikan dengan baik. Terlebih, di zaman yang serba dijital ini teramat sayang apabila peristiwa, karya, bahkan gagasan penting tidak terwadahi semestinya, padahal berbagai macam fasilitas tersedia. Malu rasanya dengan para pendahulu seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, Hamka hingga generasi Gie yang rajin mengabadikan berbagai karya dan dokumentasi peristiwa dengan segala keterbatasannya.

Seiring berjalannya waktu, apabila direnungkan, tak ada salahnya memulai meski terlambat. Dengan gerakan literasi yang kontinyu minimal bisa memberantas kebodohan (saya sendiri). Ajakan dan provokasi saya bagi yang sempat mampir atau kesasar ke laman ini sederhana, Baca, Tulis, Terbitkan.

Selamat Berolahkata!

Gubuk Perjuangan

2 September 2016