Posts in Category: Sastra

Demi Kesehatan Nalar, Mari ‘Bertarung’ Berolahkata

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

Saya tidak tahu harus memulai tulisan perdana di laman ini (bunghilmy.com) darimana, yang jelas laman ini saya buat semata karena berbagai sebab yang muncul di otak saya, pertama sejauh ini gagasan-gagasan baik secara lisan maupun tulisan dalam kerangka besar sebuah gerakan literasi yang berasal dari berbagai aktivitas selama di dalam maupun di luar kampus mandek ditengah jalan setelah tak lagi menyandang status mahasiswa.

Kedua, terus terang saja, ketakutan saya atas segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi menjadi sia-sia apabila tak terdokumentasikan dengan baik. Terlebih, di zaman yang serba dijital ini teramat sayang apabila peristiwa, karya, bahkan gagasan penting tidak terwadahi semestinya, padahal berbagai macam fasilitas tersedia. Malu rasanya dengan para pendahulu seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, Hamka hingga generasi Gie yang rajin mengabadikan berbagai karya dan dokumentasi peristiwa dengan segala keterbatasannya.

Seiring berjalannya waktu, apabila direnungkan, tak ada salahnya memulai meski terlambat. Dengan gerakan literasi yang kontinyu minimal bisa memberantas kebodohan (saya sendiri). Ajakan dan provokasi saya bagi yang sempat mampir atau kesasar ke laman ini sederhana, Baca, Tulis, Terbitkan.

Selamat Berolahkata!

Gubuk Perjuangan

2 September 2016

Senen dan Jalan Berliku Si Anak Hilang

ilustrasi (dok.bunghilmy)

ilustrasi (dok.bunghilmy)

Hari itu, jauh sebelum ia melangkah di Senen
Kobaran api akan sebuah tekad sudah mengepal
Kepalan itu tak dapat dikoyak oleh langit pun
Mimpi-mimpinya akan dunia baru telah mengepal sekeras batu, sekuat baja
Ia berjalan sendiri, tak tau arah, tanpa arah, bahkan tanpa arah(an)

Memilih jalan yang tak banyak diambil kebanyakan
Maunya berbeda, tak mau jadi pengikut
Meski katanya surga itu enak, ia tak mau ke surga
Jelaslah, tak ada yang pernah ‘benar-benar’ ke surga!

Akhirnya, jatuhlah, hingga dipaksa pulang oleh aspal-aspal jahat, beton-beton bangsat
Meruntuhkan citanya akan dunia baru yang sempat masuk dalam kemeja-kemeja manisnya bergeser ke kancut busuknya

Kuatnya kepalan itu membawanya lagi
Memunguti tekad yang tercecer
Mengumpulkan kembali mimpi-mimpinya yang sempat tertunda
Ketika melangkah kembali di Senen, sang angkutan sejuta umat menebar senyum-senyum manisnya, gestur-gestur nakalnya, sambil berkata “Bukan persoalan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak.” .

Gubuk Perjuangan
26 Agustus 2016

Salam Perpisahan dari Awan

ilustrasi (dok.bunghilmy)

ilustrasi (dok.bunghilmy)

Matahari perlahan-lahan raib sebagai tanda ucap salam perpisahan dengan sang awan

Sang awan perlahan pergi sebagai tanda sambut pada sang mendung

Sang mendung datang gagah perkasa menyelimuti dunia rupa yang tak sanggup menahan gejolak tanya

Mengapa semua harus pergi?

Tak ada yang dapat mengungkap, datang dan pergi adalah ilusi yang dimainkan oleh pikiran ‘bodoh’ yang terjebak dalam sebuah kemunafikan

Tak ada yang datang dan pergi, dengan berbagai alasan, tak akan kembali seutuhnya

Tumbuh dengan semua yang baru dan menjadi percikan-percikan , serpihan-serpihan kebaharuan

Pergilah, baruhilah, pantaskanlah dan kembalilah meski tak kembali seutuhnya, akan menjadi rupa-rupa yang baru setengah utuh

Gubuk Perjuangan

16 Agustus 2016