Posts in Category: Peristiwa

Mengenal Kosakata Bahari, ‘Lautan’ yang berakhir di Warteg

Ilustrasi warteg bahari, warung makan kesayangan anak kos. (sumber: googleimage)

Ilustrasi warteg bahari, warung makan kesayangan anak kos. (sumber: googleimage)

“Kalian tau beda maritim dengan Bahari?”

Pertanyaan ini mengemuka ketika saya sedang mengikuti perkuliahan sejarah maritim yang diampu langsung guru besar ilmu sejarah UI, Prof Dr. Susanto Zuhdi.

Belum sempat kami sekelas menjawab, beliau menyeletuk kembali. “Jangan cuma warteg saja yang kalian ketahui tentang Bahari.”

Sebagai orang yang banyak bergelut di darat, nama bahari memang sangat familiar, terutama bagi anak kosan yang sehari-hari hidupnya bergantung pada warung makan khas Tegal ini.

Tak susah mencari warteg dengan tagline bahari di wilayah Jadetabek. Harga relatif terjangkau, dengan cita rasa ala ‘prasmanan’ yang konon cita rasanya sama enaknya (ini versi saya lo ya) di semua warteg dengan tagline bahari, membuatnya jadi idaman anak rantau.

Dan satu lagi, porsi kuli! poin penting bagi warung manapun yang akan menjadi kesayangan anak kos, terus terang di akhir bulan kadang spesies mahasiswa kere harus merapel makan siangnya dengan makan malam sekaligus. Nah, warung macam begini pasti jadi rujukan.

Konon, warteg dengan embel-embel bahari ini hampir merajai sudut-sudut keramaian ibukota. Adagium ‘ada gula ada semut’ nampaknya pas menggambarkan ekspansi warung makan dengan menu khas orek tempe ini. Keberadaan mereka juga yang cukup meracuni otak saya, “Kalau ingat kata Bahari, ya ingatnya warteg.”

Nah kembali ke topik. Ngomong-ngomong, penasaran dengan kosakata Bahari, reflek saja membuka lembaran lembaran lama, percayalah tak semua yang lalu adalah duka, eh. Ya, kata bahari pernah disebut Presiden RI pertama, Soekarno dalam pidato pembukaan Munas Maritim pertama di Jakarta, 23 September 1963.

“….yang kita maksud dengan perkataan zaman bahari ialah zaman purbakala, zaman dahulu, zaman kuno, zaman yang lampau itu kita namakan zaman bahari. Apa sebab? Sebabnya ialah kita di zaman lampau itu adalah suatu bangsa pelaut. Bahar, elbaher artinya laut, zaman kita mengarungi laut, zaman tatkala Kita adalah bangsa pelaut,” ujar bung Karno dengan gaya bicara berapi-apinya.

Di zaman yang berbeda, puluhan tahun kemudian, Prof Adrian B. Lapian menguraikan makna kata bahari dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Sastra UI, dengan judul ‘Sejarah Nusantara Sejarah Bahari (1992)’. Empat kata yang dimaksud dalam judul uraian ini akan bertemu kata nusantara dengan bahari yang bermakna laut.

Dosen saya sendiri, Prof Dr. Susanto Zuhdi dalam beberapa tulisan yang kemudian dihimpun dalam satu buku yang diterbitkan tidak membedakan budaya bahari dengan budaya maritim. Ini dipertegas dalam orasi ilmiahnya dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-75 FIB UI, 8 Desember 2015 dengan judul ‘Budaya Bahari sebagai Wajah Utama Masa Depan Negara Maritim Indonesia’.

Penjelasan di atas bagi yang awam, termasuk saya sendiri, lumayan abot (teramat berat) untuk dicerna. Untuk menghindari perdebatan panjang lebar, ambillah makna laut dalam pengertian bahari.

Kembali lagi, ketika berbicara laut. Ini kenapa? Saya tak habis pikir ada saja sebuah warung makan dengan nama bahari, warteg pula. Apa mungkin karena letak Tegal di pesisir utara Pulau Jawa? Atau CEO waralaba warteg bahari ini punya kenangan dengan laut? Entahlah, yang jelas masakan warteg dengan nama bahari enak, plus porsi kuli.

Setelah berfikir mendalam, satu malam, dua malam, hingga malam minggu tiba. Saya mencoba mendalami warteg ini, ndilalah saya paham setelah mencoba menu-menu warteg ini. Ada tuna, tongkol, tumis kerang, udang goreng. Tiba-tiba saya tertegun, apa ya ini yang disebut Bahari ??? Ah lupakan, menu itu bagi anak kos tak terlalu penting, terpenting porsi banyak, rasa enak apa enggak itu belakangan, kecuali rasaku padamu yang tak pernah kau hiraukan. (*)

(Tulisan ini dibuat saat bulan Desember, saat rintik hujan tak henti-hentinya membasahi dasar bumi, eeh, Selamat Hari Nusantara)

Kisah Salim, Pria Renta dan Buta yang Tetap Gigih Bekerja

Salim (kanan-jaket biru), Kakek 78 tahun yang tetap bekerja meski menderita katarak (Foto: Hilmy/malangtimes)

Salim (kanan-jaket biru), Kakek 78 tahun yang tetap bekerja meski menderita katarak (Foto: Hilmy/malangtimes)

Keranjang berisi buah jeruk masih terlihat penuh. Seorang pria renta tampak menjaganya. Bersandar di emperan toko di sekitar Pasar Besar Malang. Lalu lalang orang lewat begitu saja. Sesekali datang pembeli kepadanya.

Mengandalkan naluri dan ingatannya, lelaki renta bernama Salim, 78 tahun ini membungkus jeruk yang dipesan pembeli. Meski sudah tua dan kedua matanya tidak bida melihat, Salim tetap bekerja dan tidak menyerah dengan kondisi fisiknya yang tidak mendukung sepenuhnya.

Hampir setiap hari, Salim berangkat dari rumahnya sebelum mentari belum begitu tinggi. Dua ranjang anyaman bambu dibawanya untuk berdagang jeruk di sekitar pasar besar besar, Kota Malang. Tepatnya di pertokoan sekitar altara.

Ketika ditanya, terceletuk Salim namanya, dengan pelan nama kakek ini. Sontak ketika mencoba menemui pria ini dengan sigap ia langsung bertanya. “Mau beli jeruknya nak?,” katanya.

Proses jual beli terjadi, singkat cerita kakek ini terlihat bingung mencari tas plastik kresek untuk mewadahi dagangan yang dijualnya, bahkan ketika merogoh sakunya untuk mencari uang ‘kembalian’.

Tak butuh waktu lama, rekan sesama pedagang di sebelahnya pun membantu. “Duwite seket, susuke sepuluh ewu (Uangnya 50 ribu, kembaliannya sepuluh ribu),” celetuk kawannya dengan bahasa Jawa dan sesekali diselingi bahasa Madura kepada Salim.

Salim sudah tiga tahun matanya menderita katarak, sehingga untuk melihat sesuatu tidak cukup jelas. Ketika ditanya mengapa tidak operasi mata dan istirahat saja, mengingat usianya sudah tua ia menjawab takut untuk operasi.

“Saya takut operasi mata, hanya beli obat saja, ya tetap harus kerja karena ada istri di rumah, anak saya di Malaysia tidak pulang, kalau tidak kerja menyambung hidup dari mana,” kata Salim lirih.

Sehari-hari Salim berdagang di depan komplek pertokoan wilayah pasar besar tersebut mulai pagi pukul 07.00 WIB hingga sore pukul 14.30 WIB. Sudah tiga tahun ia berdagang jeruk, sebelumnya ia berdagang jeruk dengan berkeliling menggunakan ‘pikulan’ keliling ke beberapa tempat, namun karena kondisi kesehatannya menurun dan matanya terkena katarak, ia berhenti berdagang keliling dan hanya berdagang di depan pertokoan tersebut.

Ditanya bagaimana ia dapat berdagang dengan kondisi tersebut, ia mengaku setiap pagi ia berangkat dari rumahnya di daerah Tlogowaru dengan berjalan kaki dan naik angkutan kota menuju pasar besar, sesampainya di lokasi, dua keranjang dagangan diambil di depan toko yang dititipi, dan jeruk yang dijual diantar oleh penyuplai langsung ke tempat berjalan milik Salim.

“Kalau jeruknya sudah diberi plastik untuk 2 Kg, jadi tinggal ambil kalau yang mau beli,” imbuhnya.

Terlihat berbeda dengan pedagang jeruk pada umumnya yang biasa menjajakan dagangannya dengan pembeli bisa memilih sesuka hati jeruk yang akan dibeli, namun di tempat dagangan Salim, jeruk tersebut sudah dikemas dengan plastik dengan isi masing-masing 2 Kg, untuk memudahkannya ketika berjualan.

“Kalau tidak begitu ndak kelihatan pak Salim,” celetuk pedagang mangga di sebelah Salim.

Harga jeruk yang dijualnya, Rp 20 ribu rupiah untuk jeruk per plastik yang berukuran 2 Kg. Ia tetap berjualan meskipun kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja, mengingat ia satu-satunya tulang panggung keluarga, karena istrinya sudah tak lagi bekerja dan seorang anaknya berada jauh diperantauan, tidak pernah kembali. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/4014/3/20150911/155600/kisah-salim-pria-renta-dan-buta-yang-tetap-gigih-bekerja/

Mereka yang Tak Pegang ‘Bedil’: Berjuang Atas Nama Cinta Lewat Kata, Tanah, dan Devisa

Aksi guru honorer di depan Istana Merdeka, Jakarta beberapa waktu lalu (Sumber Foto: kriminalitas.com)

Aksi guru honorer di depan Istana Merdeka, Jakarta beberapa waktu lalu (Sumber Foto: kriminalitas.com)

Tak bisa ditampik, ketika memulai pembicaraan tentang Pahlawan, apa yang muncul di benak kita adalah perang, senjata, tentara dan semua yang berbau revolusi fisik. Mindset yang terbangun sejak lama, khususnya ketika panas-panasnya perang fisik, awal hingga jelang pertengahan abad 20  terbawa hingga dewasa ini. Tidak berlebihan, karena memang faktanya begitu, mereka yang angkat senjata membela bangsa dan negaranya atas nama nasionalisme ketika kelak gugur otomatis akan mendapat gelar pahlawan, tempat peristirahatan terakhir pun di Taman Makam Pahlawan, berikut rentetan gelar tanda jasa dari negara atas segala perjuangan dan pengorbanannya.

Lantas, bagaimana dengan konteks kekinian? Ketika sudah tak lagi ada perang fisik, bahkan perang dingin pun telah berakhir dengan kekuatan tunggal yang berkuasa di jagat raya ini, masihkah status pahlawan harus digapai oleh yang ‘angkat bedil (senjata.red)’ di medan tempur?. Bagaimana dengan sosok guru yang angkat pena memberikan cinta kasihnya untuk calon generasi penerus bangsa? Bagaimana pula dengan seorang buruh tani yang angkat cangkul menggali tanah-tanah garapan yang mungkin saja bukan tanah miliknya untuk memenuhi ketersediaan stok makanan pokok umat manusia? Lalu, bagaimana dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang angkat kaki dari negeri yang ia cintai untuk mengais pundi-pundi rupiah di negeri orang untuk kembali membawa devisa bagi negerinya? dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya apakah mereka yang tak angkat bedil di medan pertempuan tak layak menghuni taman makam pahlawan? atau bila dianggap berlebihan, tak cukup layakkah disebut pahlawan bangsa? Bila negara tak sanggup ‘menggelarinya’, kesatuan kebangsaan secara kolektif memberi pengakuan itu. Bila saja masih terlalu berlebihan lagi, sudahkah negara ini memuliakan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan muncul dalam pikiran kritis pembaca (asumsi saya).

Kembali ke topik, to the point saja jangankan diberi pemuliaan layaknya seorang pahlawan, hidup mereka saja umumnya (masih) dibawah garis standar kesejahteraan nasional. Bolehlah negara mengklaim tingkat kesejahteraan guru meningkat dengan adanya sertifikasi guru dan sejenis, pertanyaan kritisnya guru yang mana? Bagaimana bagi mereka yang masih berstatus honorer bertahun-tahun atau mungkin sampai mati bergelar status itu, bagai fenomena gunung es, hanya dipucuk yang nampak.

Begitu pula buruh tani, ini nasib paling tragis. Dengan dalih pembangunan nasional dengan perluasan pabrik-pabrik milik pemodal besar, tanah-tanah garapan digusur, terlebih bagi yang tak punya tanah dan tak punya keahlian lain, akhirnya ya menambah daftar pengangguran. Hasil interaksi negara berkembang dengan negara maju membawa dampak terhadap nasib ‘wong cilik’ yang tak punya kuasa bahkan atas dirinya sendiri.

Lagi-lagi, nasib sang ‘pahlawan’ devisa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tak semuanya beruntung seperti yang dikisahkan di desa-desa dan pinggiran kota. Kisah pilu mereka yang berbondong-bondong mengadu nasib di negeri orang tak selalu mulus, ada memang yang berhasil, ada yang membawa cerita duka bahkan pulang hanya tinggal nama.

Yang dapat dipahami, beragam kisah guru, kaum buruh tani, dan TKI juga sama besarnya memiliki jasa dalam membangun identitas nasional atas nama bangsa dan negara. Mereka memang tak angkat senjata di medan tempur, tidak bau mesiu, tidak selalu ‘bersimbah darah’, namun mereka tidak pernah menuntut disebut pahlawan, tidak menuntut mendapat pangkat dibahu mereka, termasuk tidak menuntut ketika gugur dimakamkan di ‘Taman Makam Pahlawan’, dan juga tidak akan meminta namanya diabadikan menjadi nama jalan.(*)

Pernah dimuat di: http://rubik.okezone.com/read/39758/mereka-yang-tak-pegang-bedil-berjuang-atas-nama-cinta-lewat-kata-tanah-dan-devisa

Menegakkan ‘Sumpah Pemuda’ di Lapangan Hijau

Suporter Indonesia saat menyaksikan timnas U-19 bertanding melawan Thailand pada lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF U-19 di Stadion Delta Sidoarjo, Senin (16/9/2013). (KOMPAS-Dok. Asean Football)

Suporter Indonesia saat menyaksikan timnas U-19 bertanding melawan Thailand pada lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF U-19 di Stadion Delta Sidoarjo, Senin (16/9/2013). (KOMPAS-Dok. Asean Football)

Sepakan penalti striker tim nasioal (timnas) Indonesia, Ilham Udin Armayn disertai peluit panjang wasit asal negeri gajah putih Thailand, Sivakorn Pu-Udom mengakhiri pertandingan sengit partai final Piala AFF U-19 tahun 2013 antara timnas Indonesia melawan Vietnam di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (22/9/2013) membuat pemain, ofisial, dan seluruh komponen tim berlarian berpelukan. Tetesan keringat campur aduk dengan tangis air mata kebahagiaaan memancar di stadion yang dipadati tidak kurang 30 ribu penonton ini.

Pun demikian dengan luapan kegembiraan di tribun stadion, sempat dibuat senam jantung sepanjang 120 menit pertandingan normal plus babak perpanjangan waktu dan babak penalti membuat ketegangan tersebut berakhir manis. Berjingkrak, berteriak, bernyanyi mengelu-elukan punggawa garuda muda yang behasil menyudahi ‘kutukan final’ timnas senior di ajang internasional. Bahkan tribun VIP yang terkenal ‘adem ayem’ larut dalam suasana euforia tersebut.

Mampu menyudahi perlawanan Vietnam dengan skor akhir 7-6 setelah pemain Vietnam, Phạm Đức Huy gagal mengeksekusi dengan baik tendangan 12 pasnya, diakhiri dengan sepakan ke sembilan Indonesia melalui sentuhan manis Ilham Udin Armayn membuat Indonesia mengukuhkan dirinya sebagai ‘raja Asia Tenggara’ ketika itu. Penampilan heroik anak-anak asuhan Indra Syafri ini mampu memukau pecinta bola tanah air. Meski sebatas di tim junior, prestasi Evan Dimas dkk mampu mengobati dahaga pecinta bola tanah air yang kering prestasi sejak terakhir kali memenangi medali emas Sea Games 1991.

Anak-anak ini telah membuat ratusan juta pasang mata baik yang hadir di stadion maupun di layar kaca terpana, seolah semua bangga ‘menjadi Indonesia’, kegirangan bak lupa ada banyak masalah besok seusai pertandingan berakhir. Kesenangan semalam itu bagaikan menutup semua problematika. Headline surat kabar keesokan hari bahkan berminggu-minggu setelahya mengulas kegagahan sang garuda muda ‘menjinakkan’ Asia Tenggara, seolah lupa ada besar bangsa, seperti korupsi, kegaduhan di parlemen,ribut-ribut para elit juga persoalan-persoalan mendasar masyarakat seperti kemiskinan, kelaparan, juga pengangguran yang tak kunjung ada ujungnya.

Heroik, kata yang mampu menggambarkan perjuangan mereka. Ditengah krisis kebanggan atas negara yang telah berdiri sejak 1945 ini, ada sekelompok anak muda yang berasal dari berbagai belahan Indonesia mampu memenuhi dahaga akan prestasi dan kebanggaan. Di era yang serba dijital dan serba instan ini justru tak banyak yang peduli akan makna sebuah kebanggan. Sebagaimana kebanggan terhadap bangsa dan negaranya. Dalam pertandingan sepakbola, semua yang sempat merenggang akibat berbagai persoalan dapat tiba-tiba mencair dan seolah tak ada masalah apapun.

Sebagaimana cap yang disematkan masyarakat terhadap dunia sepakbola teramat negatif. Selain prestasinya yang jalan di tempat, tingkah laku para penontonnya acap kali membuat geram banyak pihak. Sudah menjadi rahasia umum apabila suporter sepakbola Indonesia tersekat dalam aliansi kelompok-kelompok yang terkadang sering terjadi gesekan, bahkan berujung maut. Namun semua berubah 180 derajat ketika tim nasional berlaga, sekat kelompok dan atribut seolah tak ada, semua melebur menjadi satu kesatuan. Yel-yel umpatan dan ejekan yang kerap kali terdengar, berganti menjadi nada dukungan.

Terbaru, masih terkenang dalam ingatan, pertandingan pertama timnas Indonesia pasca pencabutkan sanksi FIFA, Mei 2016 lalu setelah kemelut panjang antara elit Federasi (PSSI) dengan Pemerintah (Kemenpora). Timnas senior mampu melumat tim negeri jiran, Malaysia tiga gol tanpa balas, Selasa (6/9/2016) malam di Stadion Manahan, Solo, aksi koreo dan yel-yel dukungan pendukung tim merah putih mampu memukau banyak pihak. Tak ada nada-nada umpatan, hanya ada nada satu dukungan. Demikian pula di pertandingan berikut ketika timnas ditahan imbang Vietnam 2-2 di Stadion Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta (9/10/2016). Banyak pihak berharap model-model persatuan sedemikian rupa dapat kembali terus mengakar.

Mereka telah menemukan persatuannya, generasi muda yang dalam proses pencarian jati dirinya menemukan jati diri Indonesia-nya di dunia sepakbola. Hal itu lebih baik, daripada mereka tak menemukan sama sekali, karena terus terang saja faktanya sisi kedaerahan yang dibentuk melalui dunia sepakbola lokal sangat mengakar pembentukan identitas kedaerahan. Sehingga perlu kiranya negara turut memfasilitasi pembentukan identitas Indonesia melalui sepakbola, daripada saling ribut antar elit satu sama lain.

Pertandingan-pertandingan tim nasional harus dimaksimalkan, terlebih yang masuk kalender FIFA, selain mengejar poin untuk perbaikan peringkat dunia juga untuk mencairkan kerenggangan dan ketegangan selama kompetisi lokal berlangsung, sudah jadi rahasia umum kalau kompetisi domestik kerap jadi biang gesekan antar kelompok suporter lokal. Dengan pertandingan timnas secara teratur paling tidak potensi-potensi gesekan tersebut dapat diminimalisir. Yang tak kalah penting, pertandingan timnas jangan lagi sentralistik, dimana pertandingan hanya dipusatkan di kota-kota di Pulau Jawa, terlebih hanya Jakarta. Masih banyak daerah-daerah lain yang harus ‘disambangi’ timnas di luar Jawa.

Untuk membumikan nasionalisme dan patriotisme, terutama di kalangan pemuda memang tak mudah, namun tetap ada cara yang bisa dilakukan, salah satunya dengan sepakbola. Sehingga apabila nasionalisme sebagai proyek bersama, sebagaimana diungkapkan Benedict Anderson (dalam Nasionalisme Indonesia Kini dan di Masa Depan), ia masih melihat banyak sekali warga Indonesia masih cenderung berpikir Indonesia sebagai sebuah “warisan“ semata, bukan sebagai sebuah tantangan atau sebuah proyek bersama.

Sebagaimana bila menjadikan Indonesia sebagai proyek bersama yang bukan sekedar warisan, kesadaran berbangsa dan bernegara dapat dibentuk melalui hal sederhana dalam dunia sepakbola, dimana negara benar-benar hadir, kolaborasi antar stakeholder sepakbola dapat berjalan saling melengkapi. Federasi fokus mengurus kompetisi dan tim nasional termasuk pembinaan usia mudanya, pemerintah menyediakan fasilitas pendukungnya, suporter kembali diatas tribun dengan proses pendewasaan diantara satu sama lain, dan tim nasional yang menyatukannya dalam satu proyek spirit Indonesia, bukan lagi spirit daerah.

Sehingga tak ada lagi ceritanya klub enggan mengirim pemain ke tim nasional, elit pemerintah dan elit federasi saling ribut satu sama lain, hak pemain dan ofisial terbengkalai, dan antar suporter saling tikam satu sama lain. Cita-cita menegakkan ‘sumpah pemuda’ dengan spirit sumpah pemuda 28 Oktober 1928, dengan bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang satu dalam satu kesatuan Indonesia bukan lagi sekedar permainan kata. Bravo Sepakbola Indonesia. (*)

Pernah dimuat di: http://m.timesindonesia.co.id/read/135508/20161028/080013/menegakkan-sumpah-pemuda-di-lapangan-hijau/

Mewarisi Api Revolusi: Jangan Lagi Dipandang Sebatas Euforia Semu

Ilustrasi hari pahlawan. Sumber Gambar: http://fasdan.blogspot.com/

Ilustrasi hari pahlawan. Sumber Gambar: http://fasdan.blogspot.com/

Kerap kali setiap memasuki bulan November selalu ‘dikultuskan’ sebagai bulan patriotik. Bahkan mengaitkan semangat 28 Oktober 1928 dengan semangat 10 November 1945 antara spirit kepemudaan dengan semangat patriotisme dalam revolusi Indonesia, tentu masanya jelas beda, meskipun nafasnya sama. Hanya saja meneladani tanpa melestarikan bagaikan mewarisi abunya, bukan apinya.

Sebagaimana dikatakan oleh Panglima Besar Revolusi, Soekarno ketika masa pengasingan (1934-1941) di Endeh, Flores, NTT, 18 Agustus 1936, “….Tetapi apa jang kita ‘tjutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja, bukan njalanja, bukan flamenja, tetapi abunja, debunja, asbesnja. Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang mentjintai kemenjan dan tunggangan onta, abunja jang bersifat Islam mulut dan Islam-ibadat — zonder (tanpa.red) taqwa, abunja jang cuma tahu batja Fatihah dan tahlil sahaja — tetapi bukan apinja jang menjala-njala dari udjung zaman jang satu ke udjung zaman jang lain ….”.

 Pesan yang dimaksud Bung Karno adalah, “Warisilah Apinya, bukan Abunya.” Dapat ditafsirkan api merupakan amsal dari jiwa. Api yang berkobar adalah makna dari jiwa yang berkobar, menggebu-gebu, dan menyala-nyala. Sebagaimana bila dikaitkan dengan semangat hari Pahlawan sendiri, yang berkobar, menggebu, dan menyala adalah maknanya bukan prosesinya.

Semestinya yang menyala dalam kesadaran generasi penerus adalah karakter atau mental para pejuang. Mental utama para pahlawan adalah mental dan karakter ksatria, dalam konteks hari ini, berbeda dengan masa revolusi ketika patriotisme identik dengan angkat senjata, di masa sekarang, mewarisi api revolusi Indonesia, dimaknai lebih dinamis.

Memaknai spirit hari pahlawan dengan kesadaran untuk berpendidikan tinggi baik melalui pendidikan formal maupun informal merupakan bentuk perlawanan terhadap kebodohan, turun ke masyarakat membela kaum marhaen, dengan memberikan penyadaran pentingnya pendidikan alangkah lebih bermanfaat dibandingkan sebatas aksi turun kejalan menguliti kebijakan pemerintahan yang dianggap tidak ‘pro rakyat’. Memberikan advokasi terhadap buruh tani tertindas menjadi lebih bermakna dibanding hanya sebatas wacana melawan ‘pemerintahan korup’.

Terkadang angan-angan yang tinggi tidak diikuti logika yang masuk akal, hanya akan menjadi gagasan utopis yang kemungkinan akan terwujud kecil. Boleh-boleh saja punya gagasan utopis, karena sifat utopis bagian dari manusia itu sendiri, namun rasio dalam mewujudkannya harus disadari seberapa besar antara kemungkinan dan ketidakmungknan. Perpaduan sikap kritis dan rasionalitas akan membawa kepada sesuatu yang lebih riil atau nyata.

Tak bisa disalahkan sepenuhnya ketika generasi hari ini terjebak dalam euforia simbol yang ujungnya hanya kemunduran cara berfikir, karena melalui pendidikan kita hingga hari ini hal itu yang ditanamkan. Mengagungi hari pahlawan tanpa memaknai apa yang telah dilakukan para pendahulu bangsa, mengagumi toko-tokoh pendiri bangsa namun hanya terjebak dalam fanatisme dan simbolitasnya tanpa memahami pemikiran-pemikirannya, memberikan kritik tajam terhadap pemerintahan tanpa tahu hakekat berbangsa dan bernegara, hanya melambungkan wacana tanpa ada aksi nyata. Semuanya hanya akan membawa masuk dalam euforia tanpa makna.(*)

Pernah dimuat di: http://revolusitotal.org/mewarisi-api-revolusi-jangan-lagi-dipandang-sebatas-euforia-semu/

Kasus Rio Haryanto, Bagaikan Fenomena Gunung Es

Rio Haryanto ketika membalap di GP2. Photo: Alastair Staley/GP2 Media Service

Rio Haryanto ketika membalap di GP2. Photo: Alastair Staley/GP2 Media Service

Berakhirnya kebersamaan antara Rio Haryanto dan Manor Racing di balap jet darat Formula One (F1) 2016 karena pembalap F1 pertama asal Indonesia itu ‘tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktual’ terkait kurangnya dana yang harus dibayarkan ke Manor, sebagaimana Rio yang berstatus Pay Driver, menimbulkan berbagai reaksi, khususnya di penggemarnya di negara asal, Indonesia.

Banyak mendapat dukungan karena dianggap sebagai pembalap pertama Indonesia di F1 (meski ditengah jalan digantikan pembalap asal Prancis (Esteban Ocon) yang ‘seharusnya’ didukung penuh oleh pemerintah, juga mendapat kritikan terutama karena hampir selalu beradai di urutan paling buncit.

Diluar sikap pro kontra tersebut, kegagalan Rio dalam menamatkan satu musim balap F1 secara penuh sebagai Pay Driver nampaknya menjadi sorotan banyak pihak, meski telah mendapat gelontoran dana dari pemerintah hingga 8  juta Euro, sikap tegas Manor ‘menghentikan’ karir Rio di tengah jalan karena kurangnya dana sisa dari total 15 juta Euro membuat banyak pihak mempertanyakannya.

Apakah negara tidak hadir? terlalu cepat untuk menyimpulkan demikian, jutaan Euro yang dikeluarkan pemerintah melalui Pertamina menjadi bukti hadirnya pemerintah terhadap keberadaan Rio Haryanto sebagai pembalap paling berprestasi sepanjang sejarah bangsa ini berdiri, meskipun berdasarkan hasil evaluasi (prestasi Rio di beberapa seri balapan F1) membuat pemerintah tak lagi ‘mampu’ menyetor kurangnya dana yang harus dibayarkan ke Manor.

Meskipun demikian, menjadi pertanyaan bagaimana keseriusan pemerintah dalam mendukung ‘wakil bangsa’ yang berprestasi di kancah internasional. Bisa jadi menjadi sebuah ‘fenomena gunung es’, seolah di puncak permasalahan adalah kasus Rio Haryanto, namun di grass root ada banyak atlet berprestasi lain tak dapat unjuk gigi membawa panji merah putih karena minimnya anggaran atau bahkan tidak adanya anggaran yang mampu disediakan pemerintah.

Menjadi Pekerjaan Rumah (PR) pemerintah sebagai pemangku kepentingan pemegang amanah rakyat supaya tidak muncul kembali nasib Rio-Rio lainnya, meskipun pemerintah sedang melakukan pengetatan perekonomian, dengan dalih kondisi perekonomian tidak stabil, maupun alasan apapun, pemerintah dan semua stakeholder olahraga khususnya dunia balap harus urun rembuk untuk menemukan sintesa jalan terbaik.(*)

Demi Kesehatan Nalar, Mari ‘Bertarung’ Berolahkata

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

ilustrasi oleh cargocollective.com (doc.googleimage)

Saya tidak tahu harus memulai tulisan perdana di laman ini (bunghilmy.com) darimana, yang jelas laman ini saya buat semata karena berbagai sebab yang muncul di otak saya, pertama sejauh ini gagasan-gagasan baik secara lisan maupun tulisan dalam kerangka besar sebuah gerakan literasi yang berasal dari berbagai aktivitas selama di dalam maupun di luar kampus mandek ditengah jalan setelah tak lagi menyandang status mahasiswa.

Kedua, terus terang saja, ketakutan saya atas segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi menjadi sia-sia apabila tak terdokumentasikan dengan baik. Terlebih, di zaman yang serba dijital ini teramat sayang apabila peristiwa, karya, bahkan gagasan penting tidak terwadahi semestinya, padahal berbagai macam fasilitas tersedia. Malu rasanya dengan para pendahulu seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, Hamka hingga generasi Gie yang rajin mengabadikan berbagai karya dan dokumentasi peristiwa dengan segala keterbatasannya.

Seiring berjalannya waktu, apabila direnungkan, tak ada salahnya memulai meski terlambat. Dengan gerakan literasi yang kontinyu minimal bisa memberantas kebodohan (saya sendiri). Ajakan dan provokasi saya bagi yang sempat mampir atau kesasar ke laman ini sederhana, Baca, Tulis, Terbitkan.

Selamat Berolahkata!

Gubuk Perjuangan

2 September 2016