Gerakan Mahasiswa Terdahsyat, Kini yang Hilang (1)

 

Headline surat kabar Mahasiswa Indonesia mengenai peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974. (Sumber:googleimage)

Headline surat kabar Mahasiswa Indonesia mengenai peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974. (Sumber: googleimage)

Ulasan Malari 1974 (1)

“Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan rakyat dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua ini adalah beban yang tidak ringan untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada akhirnya, berat atau ringan tetap merupakan beban kita. Sekali mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah.” –Hariman Siregar-

Pasca peristiwa 1965, khususnya yang melibatkan mahasiswa dalam menurunkan rezim Orde Lama yang terjadi justru potensi oposisi dan kekuatan kritis menjadi lumpuh, hal itu seiring dengan kokohnya kekuasaan rezim Soeharto sejak tahun 1966.Meski melemah, dalam perkembangannya ternyata tidak mematikan gerakan perlawanan di Indonesia. Berbagai bentuk perlawanan muncul di kalangan rakyat maupun intelektual, dalam hal ini adalah mahasiswa.

Di awal tahun 1970-an terdapat bentuk oposisi simbolik dengan munculnya Golongan Putih (Golput) serta aksi-aksi mahasiswa antikorupsi, atau gerakan sepihak dari kaum tani, gerakan ratu adil (kebatinan), atau gerakan keagamaan lainnya. Kemunculan Golput pada 28 Mei 1971 sebagai sebuah fenomena gerakan perlawanan didasari fakta bahwa rezim Orde baru hanya mencoba memapankan status quo-nya lewat berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat. Seperti terlihat dalam dalam Undang-undang tentang Pemilu, partai politik, serta kekuasaan Majelis Permusyawaratan Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MPR/DPR/DPRD).

Setahun kemudian, pada 1972, para mahasiswa juga menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), karena proyek tersebut menggusur banyak rakyat miskin. Bentuk perlawanan yang menjadi sangat fenomenal dan muncul secara terbuka (konfrontatif) terjadi sejak tahun 1973-an yang kemudian puncaknya pada tahun 1974 rezim Soeharto dihadapkan pada perlawanan yang massif dan berskala nasional yang diprakarsai oleh Gerakan Mahasiswa.

Dalam buku Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing, disebutkan bahwa sepanjang 1970-1974 hampir tidak pernah sepi dari aksi unjuk rasa. Berbagai demonstrasi itu dilatarbelakangi ketidakpuasan yang beragam. Puncaknya simbol perlawanan yang diinisiasi Gerakan Mahasiswa pada peristiwa 15 Januari 1974 (kemudian populer disebut peristiwa Malari) meletus. Peristiwa 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan Malari (Malapetaka lima Belas Januari tahun 1974) menurut interpretasi pendahuluan dapat dinyatakan sebagai suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional.Para Mahasiswa menganggap kebijakan Pemerintah kala itu sudah menyimpang dan tidak berhaluan kepada pembangunan yang mementingkan rakyat.

Diawali kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, JP. Pronk, dijadikan momentum awal untuk demonstrasi antimodal asing ini. JP. Pronk tiba di Jakarta pada 11 November 1973. Ketika JP. Pronk, yang juga menjabat sebagai menteri kerjasama pembangunan Belanda baru tiba di bandara, mahasiswa menyambutnya dengan demonstrasi melalui gambar-gambar poster sebagai bentuk kritik karena kedatangannya, karena mahasiswa menilai kerja sama ini (dengan IGGI) semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat. Mereka meneriakkan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) baru yang isinya Ganyang Korupsi, Bubarkan Asisten Pribadi, dan Turunkan Harga.

Puncaknya, Kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, pada 14-17 Januari. Kedatangan Tanaka juga disambut dengan demonstrasi besar-besaran. Rencananya massa akan menyambut kedatangan Tanaka Kakuei di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun rencana ini gagal, karena aparat keamanan sudah memblokade bandara ini dari hadangan massa yang siap melancarkan aksinya. Akibat penjagaan ketat itu sebagian massa mengalihkan aksinya di sekitar Jakarta Pusat. Bersamaan dengan itu, kelompok mahasiswa sedang melakukan diskusi di salah satu Universitas dikagetkan oleh informasi bahwa kawasan pusat Jakarta terjadi kerusuhan. Massa dari mahasiswa banyak yang mempertanyakan bagaimana kejadian anarkis tersebut bisa terjadi. Kerusuhan itu sendiri meliputi pengerusakan beberapa fasilitas umum dan bangunan toko di kawasan Ibu kota seperti pertokoan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat. Selama dua hari daerah sekitar ibu kota diselimuti asap.

Berdasarkan data yang dihimpun MALANGTIMES dari berbagai sumber tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan dalam peristiwa itu. Sampai sekarang menjadi misteri siapa dalang di balik peristiwa kerusuhan tersebut. Hariman Siregar (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia) dan kelompok Mahasiswa lainnya dituding sebagai otak dalam kerusuhan itu.

Dalam buku karya C. van Dijk dengan judul Pengadilan Hariman Siregar. Hariman dituntut hukuman yang dituntut penuntut umum 12 tahun penjara. Namun diputuskan dihukum enam tahun penjara, dipotong masa tahanan. Baik dia maupun penuntut umum meminta banding. Pendapat lain menyebutkan kerusuhan itu juga dipengaruhi adanya faksi-faksi yang ada di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang saling berebut pengaruh. Nampak semenjak kekuasaan Jenderal Soeharto menjadi kokoh setelah kemenangan besar Golkar dalam Pemilihan Umum 1971, makin mengerucut pula ‘pembelahan’ berdasarkan kepentingan khas yang berwujud faksi-faksi. Awal mula terciptanya faksi, terutama terkait pada soal porsi dalam posisi kekuasaan dan porsi benefit ekonomi. Pada tahun 1973, keberadaan faksi-faksi lalu juga terkait dengan soal siapa tokoh yang akan menjadi pengganti Soeharto di posisi nomor satu bila tiba waktunya, setidaknya tercatat kelompok Jenderal Ali Moertopo di satu pihak dan kelompok Jenderal Soemitro pada pihak lain.

Dalam buku rahasia-rahasia Ali Moertopo dalam seri buku Majalah Tempo tentang Tokoh Militer dalam bab penumpang gelap Malari dijelaskan bahwa dampak Malari menjalar di tubuh militer. Jenderal Soemitro menjadi korban, Jabatannya sebagai Panglima Kopkamtib dilucuti. Mayor Jenderal Sutopo Juwono, Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (Bakin), juga dilengserkan. Kedua jenderal ini disebut-sebut sebagai kubu melawan Ali Moertopo. Soetopo ‘dilempar’ menjadi duta besar di Belanda. Adapun Soemitro menolak tawaran sebagai duta besar di Amerika Serikat. Di kubu Ali, Soeharto hanya membubarkan asisten pribadi. Ali sendiri naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dan diberi jabatan sebagai wakil kepala Bakin. (*)

Pernah dimuat di: http://www.malangtimes.com/baca/8754/1/20160115/103716/gerakan-mahasiswa-terdahsyat-kini-yang-hilang/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *