Senen dan Jalan Berliku Si Anak Hilang

ilustrasi (dok.bunghilmy)

ilustrasi (dok.bunghilmy)

Hari itu, jauh sebelum ia melangkah di Senen
Kobaran api akan sebuah tekad sudah mengepal
Kepalan itu tak dapat dikoyak oleh langit pun
Mimpi-mimpinya akan dunia baru telah mengepal sekeras batu, sekuat baja
Ia berjalan sendiri, tak tau arah, tanpa arah, bahkan tanpa arah(an)

Memilih jalan yang tak banyak diambil kebanyakan
Maunya berbeda, tak mau jadi pengikut
Meski katanya surga itu enak, ia tak mau ke surga
Jelaslah, tak ada yang pernah ‘benar-benar’ ke surga!

Akhirnya, jatuhlah, hingga dipaksa pulang oleh aspal-aspal jahat, beton-beton bangsat
Meruntuhkan citanya akan dunia baru yang sempat masuk dalam kemeja-kemeja manisnya bergeser ke kancut busuknya

Kuatnya kepalan itu membawanya lagi
Memunguti tekad yang tercecer
Mengumpulkan kembali mimpi-mimpinya yang sempat tertunda
Ketika melangkah kembali di Senen, sang angkutan sejuta umat menebar senyum-senyum manisnya, gestur-gestur nakalnya, sambil berkata “Bukan persoalan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak.” .

Gubuk Perjuangan
26 Agustus 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *